MANADO, INFONESIA24.COM – Dinamika pencalonan Rektor Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado periode 2026–2030 kembali menyoroti pentingnya sosok pemimpin yang mampu menghubungkan kegiatan akademik, riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat. Salah satu nama yang muncul dalam proses tersebut adalah Prof. Dr. Roike Iwan Montolalu, S.Pi., M.Sc., Guru Besar Bidang Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNSRAT.
Rekam jejak Prof. Roike dinilai mencakup tiga ranah penting perguruan tinggi, yakni pengembangan akademik, penelitian dan inovasi, serta kepemimpinan dan tata kelola kelembagaan. Ia pernah menjabat Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNSRAT, kemudian dipercaya sebagai Dekan FPIK sejak 2022. Pada Juli 2024, ia mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II UNSRAT Bidang Umum dan Keuangan.
Pengalaman tersebut memberinya gambaran langsung mengenai pengelolaan sumber daya universitas, terutama administrasi umum, keuangan, serta dukungan sarana dan prasarana pendidikan tinggi. Selain itu, ia tercatat sebagai asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak 2015 dan terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan mutu pendidikan tinggi.
Dalam bidang keilmuan, perhatian Prof. Roike antara lain diarahkan pada pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan menjadi produk pangan yang bergizi, aman, berkualitas, dan bernilai tambah. Gagasan itu disampaikannya melalui orasi ilmiah pada 16 Januari 2025 dengan tema “Dari Laut ke Meja Makan: Inovasi Pengolahan Hasil Laut untuk Mendukung Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis.”
Melalui gagasan tersebut, hasil riset dan inovasi teknologi pangan ditempatkan sebagai bagian dari solusi ilmiah untuk mendukung program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Kajiannya mencakup teknologi pengolahan ikan, inovasi pengawetan, pengembangan teknologi pengemasan pangan, serta pemanfaatan bahan baku lokal bergizi. Salah satu aspek yang dikembangkan adalah teknologi pengemasan berbasis bahan alami, seperti edible coating dan edible film, yang berpotensi menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan produk pangan.
Rekam jejak penelitiannya juga terkait pengembangan nanokaragenan untuk edible coating dalam menjaga kualitas produk perikanan serta optimasi ekstraksi gelatin dari limbah kulit tuna. Arah riset ini menunjukkan keterkaitan antara pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, pemanfaatan sumber daya lokal, dan keberlanjutan sektor perikanan.
Bagi Sulawesi Utara yang memiliki potensi kelautan dan perikanan besar, pengembangan riset semacam itu dinilai membuka peluang keterlibatan nelayan, pelaku usaha perikanan, UMKM pangan, dan masyarakat dalam rantai ekonomi berbasis sumber daya lokal. Program MBG tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga dukungan teknologi pengolahan, standar keamanan pangan, pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi.
Dalam konteks pencalonan rektor, pengalaman Prof. Roike sebagai Wakil Rektor II, dekan, dan pejabat di lingkungan LPPM menjadi salah satu dimensi yang dapat dicermati sivitas akademika. Namun, pengalaman jabatan dinilai bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan. Sivitas akademika juga menantikan bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan ke dalam visi, misi, program kerja, dan komitmen terhadap perubahan serta kemajuan universitas.
UNSRAT sendiri menghadapi tantangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat reputasi akademik, mendorong produktivitas penelitian, mengembangkan inovasi, serta memperluas jejaring kerja sama nasional dan internasional. Penguatan tata kelola universitas, pengelolaan keuangan, optimalisasi aset, peningkatan kualitas pelayanan akademik, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lingkungan kampus yang produktif juga menjadi agenda penting.
Dosen Fisip Unsrat, Efvendy Sondakh, menilai UNSRAT membutuhkan pemimpin yang visioner, berintegritas, berani melakukan perubahan, serta memiliki komitmen kuat untuk memajukan pendidikan tinggi. Menurutnya, kepemimpinan ke depan harus mampu menjadikan UNSRAT bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi juga pusat keunggulan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Rektor yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu membangun tata kelola universitas yang transparan dan profesional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat daya saing lulusan, serta membawa UNSRAT semakin diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Efvendy yang akrab disapa Mener Fhen menegaskan, UNSRAT membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya melanjutkan perjalanan, tetapi juga berani membawa perubahan dan menciptakan masa depan.
Dengan demikian, pencalonan rektor bukan sekadar kontestasi jabatan akademik, melainkan momentum untuk menguji gagasan, rekam jejak, integritas, dan kemampuan kepemimpinan setiap calon. Rekam jejak Prof. Roike Montolalu dapat dicermati melalui pengalaman akademik, penelitian, dan jabatan manajerial yang pernah diembannya. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman dan kapasitas tersebut diterjemahkan menjadi agenda kepemimpinan yang terukur, berkelanjutan, dan menjawab kebutuhan seluruh sivitas akademika. (sonny)














