PLN UID Suluttenggo Dorong Electrifying Agriculture, Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Spirulina di Desa Tarabitan

MINUT, INFONESIA24.COM – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan budidaya, pengolahan, hingga pemasaran spirulina di Desa Tarabitan, Kabupaten Minahasa Utara.

Program ini mengintegrasikan potensi lokal dengan konsep Electrifying Agriculture sebagai langkah mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis pemanfaatan energi listrik yang berkelanjutan.

General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, mengatakan program TJSL PLN kini berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui konsep Creating Shared Value (CSV), yakni menciptakan manfaat bersama bagi perusahaan dan masyarakat.

“Budidaya spirulina ini merupakan salah satu contoh inovasi pangan lokal yang sangat potensial. Melalui program Electrifying Agriculture, PLN hadir memastikan keandalan pasokan listrik guna mendukung infrastruktur budidaya. Kami ingin teknologi kelistrikan ini benar-benar memberikan nilai tambah yang signifikan bagi produktivitas dan pendapatan masyarakat Desa Tarabitan,” ujar Usman.

Menurutnya, program tersebut juga menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) PLN melalui penyediaan energi yang bersih, inklusif, serta mampu memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai teknik budidaya mikroalga spirulina, pengolahan hasil panen menjadi produk siap konsumsi, hingga strategi pemasaran digital. Melalui peningkatan kapasitas ini, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

Ketua Forum IKM-UMKM Kota Manado, Santje Pontoh, yang hadir sebagai narasumber, menilai spirulina merupakan komoditas superfood dengan prospek ekonomi yang sangat menjanjikan apabila dikelola secara profesional.

“Spirulina merupakan salah satu komoditas superfood dengan nilai ekonomi tinggi dan kaya manfaat kesehatan. Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga memahami pentingnya standardisasi produk, pengemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran yang efektif agar memiliki daya saing tinggi,” katanya.

Sementara itu, Manager PLN UP3 Manado, Revi Aldrian, menegaskan PLN akan terus melakukan pendampingan kepada kelompok usaha agar program tersebut mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan.

“Kami tidak ingin program ini berhenti pada pelatihan saja. PLN berkomitmen mendampingi kelompok hingga benar-benar mandiri secara ekonomi. Pemanfaatan energi listrik secara produktif diharapkan menjadi pemantik lahirnya ekosistem usaha baru yang berkelanjutan,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Kelompok Spirulina Farm Desa Tarabitan. Menurutnya, dukungan berupa teknologi, pelatihan, dan pendampingan dari PLN telah memberikan optimisme baru bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya spirulina secara lebih profesional.

Melalui kolaborasi antara PLN, akademisi, praktisi, dan masyarakat, program pengembangan spirulina di Desa Tarabitan diharapkan menjadi proyek percontohan (pilot project) pengembangan pangan lokal berbasis energi bersih di Sulawesi Utara, sekaligus menjadi motor penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (jim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *